« Home | Membeli Kupon Lotre » | Kidal » | Teladan » | Kisah Abdul Aziz dan radio » | Dari Catatan Harian hingga Weblog » | Minat Baca » | Tintin » | Ramalan » | Narcissus » | Seabad Dunia Penerbangan »

Masa Kampanye

Pemilihan umum, ritual lima tahunan itu kini sudah di depan mata. Entah kenapa, sejak pemilu era Orde Baru dahulu, yang konon merupakan "pemilu-pemiluan" dari rezim "pseudo demokrasi", hingga pemilu orde yang (katanya) orde reformasi ini, ritual pemilu nyaris tidak berubah. Yang ada hanyalah arak-arakan kampanye, hingar bingar pidato para jurkam, konser dangdut gratisan, dan poster yang bertebaran, mengotori pemandangan di mana-mana. Tidak ada usaha untuk menjadikan pemilu sebagai ajang pesta rakyat yang cerdas.

Orang datang ke arena kampanye, sekedar untuk bergoyang dangdut, mendengar janji-janji surga para juru kampanye, mengkoleksi kaos berlogo partai, dan kalau beruntung, mendapat amplop, sekedar uang lelah atau pengganti penghasilan yang hilang hari itu.

Tentu semua orang tahu, bahwa janji-janji yang terlontar di arena kampanye itu berpeluang kecil untuk bisa terwujud. Bagaimana mungkin di negara yang hampir bangkrut ini, ongkos pendidikan dan kesehatan bisa digratiskan? Biasanya, isu macam ini digelindingkan oleh partai-partai kecil, tapi dengan syarat, partai tersebut menang pemilu. Si jurkam jelas tidak terlalu perduli, apakah kelak bisa mewujudkan janji manis itu ke konstituennya. Toh, di atas kertas partainya tidak mungkin menang, sehingga otomatis janji ini tidak perlu diwujudkan.

Sementara itu, partai-partai besar yang punya kans lebih besar untuk menang pemilu, biasanya akan cukup berhati-hati dalam menebar harapan. Tapi, toh massa tidak terlalu perduli, karena partai besar biasanya datang dengan serombongan artis yang siap menghibuir massa yang memang tidak datang cuma untuk mendengar ocehan para politisi di panggung kampanye. Lagipula, tidak semua orang yang berkerumun itu adalah massa partai bersangkutan. Sebagian besar adalah massa yang dimobilisasi dengan imbalan sejumlah uang, atau cuma sekedar penonton iseng yang datang untuk memperoleh tontonan hiburan gratis.

Tidak kalah heboh adalah sinyelemen meningkatnya uang palsu yang beredar di masyarakat pada masa kampanye. Maka lengkap sudah kepalsuan di seputar kampanye pemilu. Para calon wakil rakyat mengumbar janji-janji palsu di depan massa yang juga palsu, yang dimobilisasi dengan imbalan uang palsu. Ritual yang sama akan terulang dari waktu ke waktu tiap lima tahun sekali. Konyol dan menyedihkan!